//
you're reading...
Ibu dan Anak

Tangguhku Terlambat Bicara (2)

Maaaapp tak terkira, janjinya sih habis lebaran nulis kelanjutan tentang si gantengku Mas Tangguh, setelah sekuel pertamanya Tangguhku Terlambat Bicara (1). Alhasil ba’da idul Adhapun terlewati *menutup muka sambil nyengir-nyengir. Tapi ba’da idul Adhapun kan masih termasuk ba’da iIdul Fitri yak? tuh kan masih ngeles hahaha…

Lagian siapa sih yang nunggu tulisan blogger kacangan kayak gini, kege-eran aja tuhhh… 😛

oke, sekarang mulai nulis lagi..

Sampai titik itu saya masih kebingungan, mengapa Tangguh sukar sekali diajari bicara (tidak hanya sukar berbicara). Secara fisiologis insyaaALLAH baik, dia bisa melet-melet (menjulurkan lidahnya), makan lancar, tidak ada cacat di sekitar mulutnya begitu juga pendengarannya.Di usianya yang ketiga, kata yang sering keluar dari muutnya adalah “mama”, “papa”, “hemme (mimik)”, “maem”, “hemma (binatang)”, ‘unyuu (kucing, maksudnya miaou)’ , “top (laptop)”, “dada tata (kereta)”, “embwwemm (mobil)”. Selebihnya kadang muncul kata-kata baru namun tak mau (atau tak bisa?) mengulanginya lagi.

Diajarin? membuat Tangguh mau mendengar kataku adalah hal yang tidak mudah kalo boleh aku bilang malah susaaaaahhh bo’. Sebagai emak dengan segala kesibukannya di rumah bersama empat anak, tentu tak mudah bagiku menyisihkan waktu istimewa bersama Tangguh (berdua). Tapi lagi-lagi ketika asyik bermain dan aku dekati “waah, keretanya panjang ya? Tangguh mau naik kereta?” (katanya mulailah dengan obrolan atau benda yang disukai anak), diambil nya semua mainan dan pindahlah dia #gubrak. Gimana aku mau ngajarinnya coba? Aaargghhh…

Bayangan tentang autisme sering hinggap di kepalaku. Ditambah tingkah laku Tangguh yang suka overfokus terhadap suatu hal, disisi lain overcuek terhadap hal lain. Suka melakukan suatu hal bolak-balik sampai aku yang melihat aja capek, koq dia asyik aja ya..?. kehadiran tamu menjadi hal yang tidak nyaman buatnya, begitu juga jika harus bertamu ke rumah orang lain, Tangguh lebih memilih berada di luar rumah.

Hingga suatu ketika keponakan yang kuliah di jurusan psikologi posting soal buku “anakku terlambat bicara”, karangan Julia Maria Van Tiel. Langsung saja browsing. Ini yang aku cari, buku ini tidak hanya membahas masalah terlambat bicaranya saja, melainkan juga aspek-aspek lain, membedakannya dengan autisme dan ADHD serta jenis disorder lainnya.? Aku baca buku ini hingga tuntas, urut halaman per halaman. Jantungku berdetak keras setiap membaca bagian yang mirip dengan kondisi Tangguhku. Buku ini lebih membahas tentang anak Gifted yang mengalami disinkronitas perkembangan, membedakannya dengan autisme, ADD/ADHD dan Learning Disabiity. Untuk selanjutnya silahkan baca tuisan saya sebelumnya tentang Gifted Disinkronitas. Akhirnya saya berteman dengan penulis di fecebook dan ikut forum komunikasi orang tua gifted.

Selama menjadi member di forum tersebut saya lebih banyak menjadi silent reader. Hayooyooo membaca pengalaman orang tua yang mempunyai anak gifted (dalam hal ini gifted yang mengalami disinkronitas), rasanya pusing kepala saya. Luar biasa sekali perjuangan mereka mulai dari kebingungan terhadap perkembangan anaknya yang berbeda dengan anak pada umumnya, bingung menegakkan diagnosis, berkunjung ke beberapa dokter, psikolog, mendapat diagnosa yang berbeda-beda, anak mendapat perlakuan bullying dari teman-temannya, kesulitan di sekolah (metode, bosan, prestasi anjok), dan lain-lain.

Hai, bukankah anak gifted itu anak berbakat yang memiliki IQ diatas rata-rata (>115)? *koreksi dari tulisan sebelumnya, gifted itu IQ diatas 130. Hanya saja biasanya yang diiringi dengan disinkronitas adalah anak yang memiliki IQ sangat tinggi (lebih dari sekedar diatas rata-rata).

Seharusnya mereka unggul di sekolah dan memiliki sederet prestasi yang membanggakan. Anak-anak ini mengalami disinkronitas perkembangan, seperti terlambat bicara, hiperaktif, motorik kasar/halus lemah, keras kepala dan lain-lain. hal ini mengakibatkan keebihannya (IQ super tinggi) tertutupi oleh segudang kekurangannya. Ada yang hobby matematika, diusianya yang ke 8 tahun mampu menyelesaikan matematika setingkat SMA, tapi memegang pensil tidak bisa. Hal ini tentu sangat “mengganggu” di sekolah.

Dalam hal ini disebut Gifted disinkronitas, yaitu gifted yang mengalami gangguan atau perbedaan pola perkembangan dibanding anak pada umumnya. Dan salah satu bentuk (mau tahu bentuk disinkronitas lain? cek di internet atau beli bukunya) disinkronitas itu adalah “Terlambat Bicara”. Terlambat bicara dalam hal ini merupakan gangguan kormobiditas (gangguan lain yang mengikuti atau yang muncul secara bersamaan) bukan gangguan primer. Mau tahu lebih jelas? cek di internet :D. Ketahuan nih yang nulis males, hehehe… Soalnya bakalan panjang dan lama sementara kemampuan mengetik saya masih sebelas jari 😛

Ini adalah per-er pertama orang tua, membedakannya apakah anak dengan gangguan terlambat bicara ini merupakan gangguan primer atau gangguan penyerta?. How? bisa lewat kejadian sehari-hari, misal untuk kasus Tangguh, sampek keluar otot tenggorokanpun dia nggak akan ngeh, apalagi bila sedang asyik melakukan sesuatu, tapi untuk hal lain, suara pesawat, atau video kesukaannya, biarpun lagi merem-merem mau tidur pasti langsung bangun. Nah kan? berati phisyccaly pendengarannya bagus. Mungkin suara emaknya kurang merdu hahaha…

Saya pernah baca di curhat ibu yeni shahnaz (yang dikutip bu julia maria di buku “Anakku Terlambat Bicara”), jika anak bisa mengeluarkan bunyi-bunyian yang mengandung unsur a-i-u-e-o besar kemungkinan indera pendengarannya baik.? Bagaimana dengan indera pengecapnya?, ajak anak (nggak mudah sih) untuk melet-melet, boro-boro mau diajak melet-melet yang ada mulutku ditaboknya. Aku ajak mainan ala Tazmania (inget kan kartun ini? sekarang masih ada nggak ya? #nggak punyaTV), blebleblebleblebbbBBuuWEEEEEKKK?(ungu=lidah dimainkan didalam mulut sambil ditahan mau keluar, orange=gerakan muntah dengan lidan lidah dijulurkan), cara ini ampuh untuk Tangguh, nggak tahu dengan anak lain. Atau main pipi benjol, seperti ini nih mainnya…

Screenshot from 2013-11-02 07:12:07

Atau jika ada kesulitan diagnosa, bisa menghubungi tenaga medis untuk melakukan hearing test.

Belum puas, sayapun hunting buku kedua “pendidikan Anakku Terlambat Bicara”, eehhh… tahu-tahunya suami tercinta ngasih surprise buku ini untukku. Tahu aja aku maunya apa . Eh, ini bukan basa-basi lho, support suami adalah yang utama (tentunya setelah segala kebaikan dari Sang Pencipta), bayangkan ketika suami yang notabene bapak dari anak kita marah-marah terus, menganggap bodoh anak, marah ke emaknya karena dianggap nggak mampu mendidik, banyak kan yang seperti ini?

Paling juga suami macam itu pulang kerja nonton TV, tidur, gak mau tahu buah hatinya sepanjang hari ngapain, nggak mau tahu istrinya jungkir balik kayak apa tiap harinya #kesel. Ujung-ujungnya bisa terjadi KDRT , Kris Dayanti-Raul Thermos, hush ngaco, kekerasan Dalam Rumah Tangga, mulai dari kekerasan verbal bahkan fisik, Na’udzubillah min Dzalik. Eh iya, jangan lupa sering-seringlah komunikasikan perkembangan semua anak pada suami, disamping agar tahu, kitanya juga plong, plus suami biasanya punya sudut pandang berbeda dalam melihat situasi #tips.

Membedakannya dengan autis

Ada perbedaan mendasar terlambat bicara pada anak autis dan bukan. Pada anak autis, selain kesulitan bahasa verbal (omongan) juga mereka tidak mengerti bahasa non verbal (emosi, kiasan). Anak autis tidak bisa membedakan suara dengan intonasi rendah atau tinggi (marah). Misalnya ketika saya menyuruh Tangguh keluar kamar mandi, “Tangguh sayang, dingin ya? keluar yuk pake bajunya” dia diam saja nyuekin mamanya. Mamanya mengganti perintah “Tangguh Al-Fatih, sudah selesai main airnya, ayo keluar!!”, Tangguh cemberut sambil bahasa tubuhnya menyiratkan tidak mau keluar. “Tangguh, keluar sekarang!!”, Ada dua kemungkinan, Tangguh langsung keluar kamar mandi atau teriak-teriak gak mau keluar (ini yang paling sering). Hal ini menunjukkan anak mengerti bahasa nonverbal. Sementara pada autis mereka tidak bisa membedakannya. Ketajaman emosi untuk memahami komunikasi sosial hanyalah salah satu faktor yang bisa kita gunakan untuk membedakan bahwa anak bukan kelompok anak autis.

Perilaku repetitif (mengulang-ulang gerakan) pada autis dilakukan tanpa makna. Dalam artian, kalo bahasa gaulnya “asyik aja”.?. Hal ini dikarenakan gangguan neurologisyang mengakibatkankan gangguan pengaturan perilaku atau gerakan. Gerakan ini tidak disadari oleh si penyandang, muncul begitu saja. Sementara pada anak gifted perilaku repetitif itu mempunyai tujuan, semisal gerakan buka-tutup pintu dikarenakan si anak penasaran dengan bunyi-bunyian yang ditimbulkan. Atau bermain air tumpah-tuang karena ingin melakukan percobaan versinya (trial-error).

Selain itu, beberapa anak ada  yang mempunyai sifat rigiditas (sulit menerima perubahan) yang tinggi. Bedanya, rigiditas pada autis merupakan suatu gejala yang khas. Hal ini banyak dikaitkan dengan masalah keterbatasan pada kreativitas (kemampuan seseorang dalam mengikuti perubahan dan bahkan membuat perubahan membongkar kemapanan). Keterbatasan kreativitas juga akan menyebabkan kesulitan dalam mengembangkan kemampuan fantasi dan imajinasinya. Saya copas habis satu paragraf ini, karena bingung nulis pake bahasa bumiku. 😀 Sementara pada non autis (dalam hal ini gifted karena buku membahas tentang anak gifted), juga memiliki rigiditas yang lebih disebabkan karena nilai-nilai perfeksionis yang dimiliki anak.

Masih teringat betul di kepala saya, dulu informasi yang saya terima tentang autis salah satunya adalah ketiadaan kontak mata anak autis. Hal ini dibantah penulis dalam bukunya, penelitian terkini menyebutkan anak-anak cerdas dengan kemampuan visual yang luar biasa tidak membutuhkan waktu selama orang normal butuhkan untuk mengamati suatu benda. Misalnya anak ini bersepeda dari ujung ke ujung gang dengan hanya melihat sekilas dia hafal betul jumlah lubang, polisi tidur dan tahu preseisi jaraknya, tahu kapan harus belok, kapan harus berhenti. Selebihnya dia akan meleng memperhatikan hal lain. Jadi kontak mata disini harus dilihat dari segi kualitas bukan kuantitasnya.

Pesan moralnya adalaaah…. jangan sembarangan mencari dan menerima informasi dari media, apalagi di internet, sekali klik ribuan informasi datang. Carilah informasi dari sumber terpercaya, apalagi jika informasi yang kita butuhkan bukan sekedar resep membuat rendang, (eh nggak juga, untuk reseppun saya pilih-pilih, web yang asal comot resep saya coret dari daftar referensi) tapi menyangkut kesehatan, nyawa yang butuh penelitian bertahun-tahun. Carilah jurnal ilmiah dalam hal ini, jangan jurnal atau tulisan populer. Jurnal ilmiah dikeluarkan oleh lembaga yang berkompeten di dalamnya, merupakan hasil penelitian para ahli, bukan hanya sekedar pendapat tak berdasar dan memang untuk membacanya butuh energi yang lebih besar. Sementara tulisan populer? Selamat karena saat ini anda sedang membacanya 😀

Warning: jangan percaya begitu saja dengan tulisan ini, ada baiknya anda croscek dengan mencari jurnal ilmiah yang banyak bertebaran di inet.

Dann… masih banyak lagi informasi yang bisa kita dapat untuk membedakan anak ADHD atau bukan, Learning Dissabilities atau bukan.  Yang hal tersebut tak mungkin saya tulis satu persatu disini. Terakhir saya dengar adalah context blindness untuk membedakan autis dan non autis. Apa itu context blindness?? bisa dibaca disini. Kenapa? karena spektrum autis sangat luas oleh karena itu sering disebut ASD (Autism Spectrum Disorder), dan sebagai orang tua harus berhati-hati dengan diagnosa ini.

Berhati-hatilah dengan diagnosa yang didapat anak, karena terapi dan intervensinya akan sangat bergantung dari diagnosa yang diambil.Lakukan diagnosa pembanding.

Apalagi jika dianjurkan untuk meminum suplemen atau obat-obatan yang katanya sangat manjur untuk autis, bagus untuk otak anak de el el. Yang biasanya diiringi iming-iming mumpung masih golden age, otak masih berkembang.

 

 Bagaimana dengan Tangguh?

Tangguh tidak hiperaktif, tapi dia punya energi yang besar. Ketika Liv dan teman-temannya bermain kejar-kejaran, semua pada berebutan menjadi yang dikejar (penjahat), tidak ada yang mau jadi pengejar (polisinya). Ya iyalah, mana enak jadi yang ngejar, cuma satu orang harus nangkap banyak orang. Tapi Tangguh, buatnya run is all about fun..fun..and fun.. Dua jam menjadi “polisi” yang harus mengejar “penjahat” yang umurnya 2-3 kali lipat dari umurnya merupakan hal sangat menyenangkan.

Ketika diminta “sayang adek” kulihat dia begitu konsentrasi memusatkan energi pada tangannya untuk bisa membelai kepala adek-adeknya bukan memukulnya (tapi kadang masih suka keblabasan).

Dan sekarang diusianya menginjak 3,5 tahun, Tangguh sudah mau menemani beberapa tamu yang datang (tidaksemua), dan yang membuatku bahagia hingga berlinang airmata (beneran ini) adalah dia menunjuk gambar kereta biru di botol sabun mandinyna, tata..huuu (kereta biru). Tidak aku sangka Tangguh mempunyai ketertarikan untuk mengetahui warna secepat ini. Mengingat perkembangannya dan prasangka jelekku selama ini. Mungkin bagi sebagian ibu yang lain, diusia 3,5 tahun dan menyebut warna denga fasih adalah hal yang wajar, biasa-biasa saja. Tapi bagiku, ini luar biasa, ini anugrah, ini kemudahan dariNYA, ini seperti buah yang sudah lama kutunggu jatuhnya. Dan mama akan sabar menunggu buah-buah yang lain jatuh..

Kejutan lain (karena tidak ada dan tidak mau belajar), Tangguh yang sukanya menjajar-jajarkan mobil-mobilannya, sekarang bentuknya lebih bervariasi. Beberapa waktu lalu, Tangguh suka sekali membuat bentuk-bentuk huruf, tahu dari mana anak ini, selalu tiba-tiba. Barangkali karena sering terekspos dengan coretan-coretan kakaknya di tembok rumah. Dan setelah itu bosan…

030820131881 250720131859Mas Tangguh's projects       270720131862

Mas Tangguh’s projects

 

Hobinya sekarang beralih ke buku, buku apa saja yang penting bergambar, ditenteng kemana-mana. Awalnya dibolak-balik saja, trus ketawa-tawa sendiri, hingga lecek itu buku dan pada sobek padahal bukunya tebal dari karton. Gimana sih cara baliknya sampek pada sobek semua. Diikuti X2 yang tidak mau ketinggalan, semakin malanglah nasib buku-buku itu. Lama-lama dengan extra kesabaran kusebut benda-benda favorit yang ada di buku, sehingga sekarang Tangguhlah yang menentukan aku harus menyebut nama benda apa. Rasanya terbayar, tidak hanya harga buku yang tidak murah melainkan juga everything…

Ditambah lagi selera humornya yang semakin baik, tentunya ketika moodnya lagi baik. Sering Tangguh menggodaku, diambilnya air mandinya dimasukkan ke mulut, hingga aku teriak, “Tangguh, nggak boleh nanti sakit perut, nggak boleh minum air mandi”, Tangguh tersenyum menggoda kemudian cruuuttt, dikeluarkannya air dari mulutnya. Sering juga dia menggoda papanya yang sedang asyik di depan monitor, digelitik, ditekan-tekan keyboardnya sambil meringis. Yang ini kayaknya memang turunan kayaknya.. siapa ya? 😉

Satu hal yang pasti, setelah membaca buku ini aku sedikit lega, lho koq?? aku yakin insyaaALLAH Tangguhku tidak autis. Autis adalah kata pertama yang ada di kepalaku melihat kecuekan Tangguh atas banyak hal, dan keterlaluan fokusnya dia dalam beberapa hal. Dasar emaknya sotoy banget Aah.. Tapi tentunya tidak cukup hanya bernapas lega, karena perjalanan masih panjang. Bagaimana cara menangani anak-anak seperti ini?.

Kenapa autis adalah yang pertama kali ada dibenakku?  11 tahun lalu ada seorang balita yang didagnosa autis, gejalanya mirip sekali dengan Tangguh. Remaja ganteng ini dulunya harus menjalani bermacam terapi, diet hingga menelan obat-obatan yang katanya untuk menstimulus otak, mengurangi hiperaktifnya. Dia adalah keponakanku… Dan aku melihat dengan mata kepalaku betapa berat jalan yang yang harus dilalui kakakku dan suaminya. Betapa banyak uang, tenaga dan emosi yang terkuras. Dan tentunya berat pula yang dirasakan keponakanku tercinta :(.

Entah karena metode terapi yang salah atau penggunaan obat-obatan ataukah sedemikian parahnyakah autismenya atau… diagnosa yang salah dan diperparah dengan penggunaan obat-obatan atauu…. (aku bingung) hingga saat ini perkembangannya tidak signifikan. Aku tahu autis adalah long life disorder, tak bisa disembuhkan, yang bisa dilakukan adalah memperbaiki kualitas hidupnya.

Sering aku berpikir, andai 11 tahun lalu dilakukan diagnosa pembanding belum tentu keponakanku terdiagnosa autis, andai tidak ada intervensi obat-obatan…andai… Astaghfirullah, bukankah ketentuanNYA adalah terbaik.

Yang menjadi pe-er kami saat ini adalah menghadapi emosi Tangguh yang sering up-down tak terkendali. Kadang tenang setenang air , kadang tiba-tiba melesat jauh bak meteor. Tangguh sangat sensitif terhadap intonasi suara, sehingga untuk memberi perintah ataupun melarang tidak bisa sembarangan. Hal ini yang sering aku bilang ke kakaknya, kalo ada yang tidak betul dengan Tangguh, bilang baik-baik atau diam saja dan bilang ke mama. Jika tidak, yang terjadi adalah perkelahian yang tidak jelas :(. Misalnya untuk memakaikan baju selepas mandi, “Tangguih sini, pakai bajunya ya..” reaksinya hampir bisa ditebak, “eh, eh” sambil mendorongku dan membuang bajunya. Dikiranya mama maksa dan marah karena nggak pake baju. “Tangguh sayang, anak sholeh, anak baiknya mama, pake bajunya dulu ya sayang, biar nggak digigit nyamuk” sambil dicium atau dipeluk dulu baru deh mau pake baju. Hal ini tentunya mengundang kecemburuan saudara-saudaranya.

Jam tidurnya juga bikin pusing kepala, seringnya (satu bulan ini, setiap hari) Tangguh baru bisa tidur ketika sudah larut malam (diatas jam 1 malam, kadang diatas jam 2 malam), bangun jam 7-8 pagi, sering tidak tidur siang. Sekalinya tidur siang terlalu sore alamat begadang sampe jam 3 pagi. Belum lagi ditambah kebiasaannya bangun sambil nagis-nangis 2-3 kali dalam semalam. Pastinya paginya, ditanyain tetangga, “Tangguh nangis lagi ya? kenapa? sudah gede koq masih teriak-teriak gitu?” Aduh biyuuung… bersyukur kita manusia dianugerahi kemampuan beradaptasi, kalo tidak mungkin sudah modyaarrr. Apalagi ketika papa tidak sedang di rumah, bisa bangun semua kakak dan adek-adeknya karena ulah Tangguh.

Pola makannya yang tidak sehat, (sama sekali tidak mau buah dan sayur). Buah dijus, dimakan utuh, campur nata de coco, susu tidak mau. Sayur apalagi, kalo tahu ada warna-warni di piring langsung didorong piringnya, pilih gak makan seharian, kalo disembunyiin dibalik nasi, seringnya ketahuan dan hooeekk. Bahkan sayurnya dibikin bakwan juga gak mau, siomay dan batagor berwarna (campur wortel/daun bawang/bayam) tidak disentuhnya. Sepertinya harus lebih bersabar dan tetap istiqomah ngertiin “Le, sayur itu bikin kamu tambah ganteng lho…” hehehe.

Next Question, Apakah Tangguhku anak gifted? Aku tidak tahu, lha memang diriku bukan ahlinya. Untuk mengetahui seorang anak gifted atau bukan banyak pemeriksaan dan tes yang harus dijalani. Salah satunya adalah tes IQ dengan skala wischler yang baru bisa dilakukan untuk anak diatas 6 tahun, dan itupun masih berubah seiring bertambah umur dan kematangannya hingga remaja. Tangguhku saat ini masih 3,5 tahun, ditambah lagi pada anak gifted dengan disinkronitas tidak akan semudah itu didapatkan hasilnya karena banyak yang tertutup oleh kedisinkronitasanya.

Pentingkah diagnosa itu? tentu penting, misalnya penderita diabetes, untuk menentukan jenis pengobatan dan dietnya harus dipastikan dulu jenis diabetesnya, tidak boleh sembarangan. Hanya saja hatiku sekarang menjadi lebih tenang, pikiran dan langkah lebih terarah, paling tidak aku sudah punya big part of the whole picturenya Mas Tangguh.

Pentingkah IQ tinggi? ibaratnya IQ adalah modal awal, meski IQ memang tidak menjamin kesuksesan seseorang, karena masih ada banyak faktor lainnya. Akan tetapi tentunya IQ tinggi merupakan potensi yang tidak boleh dinafikan, tugas orang tua adalah mengasahnya, menjaganya sebagai wujud syukur kepada Sang Pencipta.

Apapun itu, setiap dari jiwa yang dititipkan kepada kami adalah istimewa dimata kami… 🙂 isn’t it right?

Mereka ada, mereka istimewa karena mereka berbeda. Sungguh tidak adil memaksa mereka sama dengan kita, sama dengan kebanyakan. Bukankah indahnya pelangi karena warnanya beraneka?

Semoga Sang Pemberi kemudahan memudahkan langkah-langkah kami…


Comment please..

Discussion

No comments yet.

Leave a Comment

Your email address will not be published.


3 × one =