//
you're reading...
Uncategorized

Menimbang SFH dan HS

Entah sampai kapan wabah atau pandemic ini berakhir, dan di tengah ketidakpastian ini tentu terlalu beresiko mengaktifkan kembali KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) di sekolah.

Berkaca dari Perancis yang nekat membuka kembali sekolah karena grafik penderita turun, dan kemudian ditemukan 70 kasus baru di sekolah. Tentunya membuat kita juga berpikir ulang untuk “menormalkan” KBM anak-anak.

Bahkan IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) juga memberikan warning tentang tingginya angka kesakitan dan kematian pada anak akibat covid19 ini.

https://farmasetika.com/2020/05/23/kematian-anak-karena-covid-19-tinggi-idai-minta-protokol-kesehatan-diperketat/

Menteri pendidikanpun memberi wacana kemunkinan SFH bisa saja  berlangsung hingga akhir tahun, tergantung kondisi penyebaran penyakit. We’ll see ya gaess, semoga lekas membaik semuanya, emak sudah kangen ngeliwet nih…

https://news.detik.com/berita/d-4993293/pandemi-corona-kemendikbud-siapkan-skenario-belajar-hingga-akhir-tahun

Nyatanya SFH tidaklah semudah itu prakteknya Esmeralda. Di sosial media ada beberapa orang tua mengeluhkan beratnya mendampingi ananda belajar di rumah dengan berbagai alasan. Belum lagi ditambah kebosanan dan jenuh karena gak kemana-mana. Satu-dua minggu sih OK, satu-dua bulan sih masih berusaha tahan, tapi kalo sampai akhir tahun which means tujuh bulan lagi, entahlah…

Ada beberapa orang tua yang menganggap tetap membayar SPP tapi anak belajar di rumah itu memberatkan. Yang tentunya kita juga gak bisa gebyah uyah menyalahkan atau mau bilang “lha, kan pandemic, dan anak tetap dapat haknya belajar (sebagai fasilitas yang dijanjikan sekolah)”, atau “pak.. bu… anggap ini momen menguatkan bonding diantara kita, eh salah, maksudnya diantara anggota keluarga” atau “begitulah rasanya mengajar anak-anak bu”.

Kita tak tahu apa alasan dibalik itu, bisa jadi keuangan keluarga ikut terguncang karena pandemic, atau bisa jadi anak terdaftar di sekolah tetapi belajarnya di rumah membuat tambahan pos pengeluaran baru (kuota internet, hp, cemilan). Atau bisa jadi (jujur saja) seharian bersama dengan anak lengkap dengan beban kurikulumnya itu menyita emosi dan tenaga. “Anakku tuh ngeyel gak mau nurut kalo belajar sama aku”, “gak sanggup ngerjain PR-PRnya”, de el el.

Barangkali opsi membicarakan dengan pihak sekolah bisa segera diambil dan ketemu jalan keluar terbaiknya ya gaeess…

******

Fenomena akhir-akhir ini yang terjadi di linimasaku adalah melirik opsi lain untuk dijadikan pertimbangan akan jalur pendidikan anak, homeschooling.

Dan, beberapa minggu ini ada beberapa teman yang menanyakan tentang homeschooling padaku, japri atau langsung. Awalnya aku tak ambil pusing, tapi melihat timeline teman-teman HSku yang isinya juga tentang hal yang sama, mendapat pertanyaan tentang apa itu HS? Gimana memulainya? Bahkan sampai pada pengen daftar HSnya dong.

Maka aku simpulkan, bisa jadi Homeschooling akan jadi trend pendidikan selama masa pandemic ini. Semoga opsi ini dilirik dan difasilitasi juga oleh pemerintah. Karena pendidikan adalah hak segala bangsa.

Oke gaeesss…

Apa itu Homeschooling? Sekolah rumah, iya bener, sekolah berbasis rumah tepatnya. Kita bahas satu persatu ya…

Karena judulnya sekolah, maka ada usia minimnya, yaitu 6-7 tahun. Dibawah itu? Belum masuk usia sekolah. Lho, tapi kan anak dibawah 6-7 tahun juga kita didik, kita ajari macem-macem di rumah. Iya betul, tapi belum disebut homeschooling, karena anak dibawah 6-7 tahun belum boleh masuk sekolah formal.

Jadi Homeschooling adalah anak usia sekolah (mulai 6-7 tahun) yang tidak menempuh jalur pendidikan formal a.k.a gak sekolah, tetapi menempuh jalur pendidikan berbasis rumah. Singkatnya GAK SEKOLAH TAPI TETAP BELAJAR.

Apa beda Homeschooling dan sekolah formal? Beda dong, sekolah formal mengacu pada kurikulum lembaga atau pemerintah. Murid wajib untuk mengikuti aturan sekolah. Sementara HS, orang tua memegang peran yang besar dalam membentuk kurikulum belajar anak.

Bagaimana kalo kita Homeschooling tapi membawa kurikulum lembaga atau pemerintah dalam hal ini sekolah  ke rumah? Meski ada yang bilang salah satu aliran Homeschooling adalah school at home, dan saya mah Silahkan saja monggo kalo mau ambil aliran itu, tapi buat saya itu berat dan buat saya itu sudah beda filosofinya dengan Homeschooling.

Membawa kurikulum lembaga atau pemerintah ke rumah pada prakteknya tak akan jauh beda dengan School From Home. Lelah dan kehabisan energi, padahal HS itu ibarat lari marathon bukan sprint meski kapanpun kita bisa keluar lapangan ganti arena. Yang tentunya diharapkan ganti arena bukan karena kelelahan tapi karena kebutuhan.

Bagaimana jika kami yang SFH juga menjalankan kurikulum HS?

Mungkin maksudnya, karena anak SFH di rumah aja, kenapa gak dicombo aja sekalian dengan kurikulum HS, gitu kali ya.

Buatku itu seperti mencampur minyak dengan air. Beda landasan konsep antara sekolah dan HS bisa berujung kebingungan dan kehabisan energi jika disatukan. Tenang gaess, momen SFH bisa jadi ajang memaksimalkan home education, ingat HOME EDUCATION itu kereeen????.

Bedakan dengan Home education.

Home education alias pendidikan rumah adalah kewajiban setiap orang tua, fardhu ‘ain hukumnya. Mendidik, mengajarkan moral, sopan santun, mengayomi, meneladani, merawat, adalah contoh-contohnya. Sementara homescholing hukumnya mubah, ibaratnya mah gitu. Anak mau disekolahin monggo, mau diles-in monggo, mau homeschooling monggo, kedudukannya sama, tergantung kebutuhan keluarga.

Hmmm, tahukah teman-teman, HSpun beraneka rupa, beda rupa tak sama adalah hal yang biasa. Teman-teman akan dapati koq si A HSnya begitu, koq si B HSnya begono, lha si C malah parah anaknya disuruh jualan mulu, si D tuh anaknya ngelayap mulu.

Kenapa begitu? Karena konsep HS itu sangat menghargai keberagaman potensi tiap anak, memaksimalkannya, menemani tumbuh kembangnya. Ibarat kata, anak si A jago banget coding, hari-hari coding melulu, eeh tapi dia gak ngerti ibu kota Cannada, dia juga gak bisa mengkonversi celcius ke Fahrenheit. It’s fine menurut kami.

Apalagi kalo dilihat dari landasan agama, praktek HS makin beraneka rupa.

Bagaimana keberlangsungan proses Homeschooling nanti akan sangat dipengaruhi dari “Kenapa kita memilih Homeschooling?”. Jika niatnya dari awal “daripada SFH, entar kalo normal sekolah lagi” maka anak juga harus disiapkan untuk “mampu” sekolah lagi, terkait dengan materi-materinya, ritme belajarnya.

Sama halnya ketika awal kami meniatkan Homeschooling, papanya bilang, banyak kurikulum sekolah yang tidak akan kepake ketika anak besar di dunia nyata. Maka kamipun tak terlalu ambil pusing dengan materi pelajaran sekolah, belajar materu UN seperlunya hanya untuk mendapat ijazah. Meski dikemudian hari seiring perjalanan Homeschooling kami ada perubahan paradigma dalam memandang pendidikan dan kebutuhan anak, maka hal itu akan berpengaruh terhadap langkah selanjutnya.

Seperti seorang teman yang meniatkan Homeschooling agar anaknya dekat dengan AlQuran, maka proses menuju hafidz yang ditempuh.

Maka tanyakan dulu ke hati nuranimu, kenapa anak-anak harus HS?

Bersambung ya gaeess…. smoga bisa lanjut nih tulisan. Doakan ya gaess..

(


Comment please..

Discussion

2 Responses to “Menimbang SFH dan HS”

  1. Oh gitu tho… #ditunggu kelanjutannya

    Posted by Gina | May 29, 2020, 3:58 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Filosofi, homeschooling, school from home, arti belajar - May 30, 2020

Leave a Comment

Your email address will not be published.


2 + = seven