//
you're reading...
Uncategorized

Apa salahnya

Apa salahnya kau dengarkan dia sebentar.
Membiarkannya bicara apa saja yang dia suka, meski bagimu itu aneh, gak masuk akal, childish.

Apa salahnya kau arahkan mata penuh cintamu padanya, memandangnya penuh cinta dan kekaguman. Buang sebentar tatapanmu dari layar tak berperasaan, dari tumpukan berkas dan timbunan memori pekerjaan.

Apa salahnya tetap kau dengarkan dia, bertahan dan menahan diri dari perasaan aku benar dia salah.
Membiarkannya bebas berargumentasi, mengeluarkan isi kepalanya, mencungkil semua sumbatan-sumbatan hatinya, membebaskan dia berteriak dengan air mata yang merajalela.

Apa salahnya kau menurunkan egomu, buang keangkuhanmu, aku lebih tua, aku lebih berpunya, aku lebih tahu, aku pernah di tempatnya… Buang semua… karena dia tak butuh ego sempitmu.

Apa salahnya kau turunkan suaramu, berkata lirih padanya, “ada apa sayang?”. Takkan itu semua menurunkan derajatmu yang agung. Hanya akan membuatmu semakin hidup dihatinya. Percayalah… karena cinta memang aneh.

Apa salahnya kau akui kesalahanmu padanya, “maafkan sayang”. Maka maafmu tak menjadikanmu rendah dan dia tinggi. Dari maafmu dia akan belajar memaafkan dan memberi maaf di kemudian hari. Dari maafmu, dia belajar mencintai apa adanya.

Apa salahnya kau hargai setiap jerihnya, memasang mulut tersenyum, mata bangga akan setiap pencapaian kecilnya.

Apa salahnya kau dekati dia, mengusap air matanya, memeluknya meski penolakan karena ego kuatnya yang kau dapat. Cukup tunjukkan bahwa, I’ll be here for you, selebihnya biarkan asa dan cinta yang bicara.

Apa salahnya kau belai rambutnya, memeluk tubuhnya yang makin meninggi, mencium keningnya penuh bangga, meski dengan malu-malu dia akan menolaknya.

Apa salahnya kau tepuk bahunya, berbicara laksana sesama orang dewasa, berdiskusi apa saja.

Ingatlah selalu, di luar sana ada banyak tangan lembut tapi berdarah yang siap menerima keluhnya.

Ingatlah selalu, bahwa merapi akan tetap mengeluarkan lahar larvanya sekuat apapun kau menyumbatnya.

Ingatlah, sungguh beruntung jika luapan emosi itu ditujukan padamu, bukan pada mereka di luar sana.

Ingatlah… jangan pernah puas melihatnya tenang di rumah, seolah dia berkata, “I’am fine, always be”. Karena disaat yang sama bisa jadi batinnya menjerit “somebody help me”.

Aaah… lagi-lagi telinga dan hati harus bekerja jauh lebih keras dari mulut dan nafsu.

Aah… ternyata mendengarkan itu jauh lebih sulit daripada berbicara sesuka gue.


Comment please..

Discussion

No comments yet.

Leave a Comment

Your email address will not be published.


− seven = 1