//
you're reading...
Home Education

Sharing seminar “PeDe Bicara Seks Dengan Anak” (bag.1)

Sebenarnya ini nyontek alias dapet ilmu dari teman yang mengikuti seminar ibu Elly Risman. Pengen ikut, tapi bareng sama workshop membatiknya kak Liv kapan hari. Jadinya.. Alkhamdulillah dapet ilmu gratisan, Dan sekarang dibagi gratisan pula, tapi kalo ada yang mau transfer saya sangat tidak keberatan, inbox aja ya… wakakkakk *sok-sokan*

 

Pernahkah ibu/bapak mendapat pertanyaan dari anak: Ma, aku ini asalnya darimana? Ma, kenapa aku beda dengan abang? dan lain-lain.. Apalagi sekarang ini, banyak diberitakan penyimpangan seks (dikatakan penyimpangan karena pelakunya seharusnya belum boleh melakukannya karena belum terikat pernikahan yang sah) yang banyak dilakukan oleh pelajar, anak-anak bahkan balita.. na’udzubillah mindzalik.. ngeri saya mendengarnya.

 

Kalo dulu orang tabu alias saru omong soal seks. kalo ada anak yang tanya, jawabannya: “Hush, masih kecil tahu apa sih kamu? G usah tanya macem2 nanti kalo udah gede tahu sendiri”. Kalo sekarang kita menjawab seperti itu, maka hasilnya anak akan bertanya kepada teman, mencari tahu lewat internet, majalah (yang bisa jadi penafsirannya salah) apalagi sekarang marak game online yang banyak dibumbuhi adegan hot. WOW!! silahkan pilih, mau tetep jaim dan melarang anak bertanya yang macem2 atau mau belajar meenjawab dan mengarahkan mereka.. It’s differrent world

 

Masalah yang satu ini (sex dan sexualitas) memang selalu menarik perhatian banyak orang, apalagi untuk remaja, dan anak-anak yang rasa keingitahuannya sangat tinggi. Dan kita tidak boleh membunuh rasa ingin tahu itu. Yang harus dilakukan adalah membimbing dan menyalurkan rasa ingin tahu itu dengan benar.

 

Dibawah ini adalah beberapa langkah pendidikan seks untuk buah hati (Mohon maaf jika ada kurang informasi, maklum hasil nyontek :D, tanx to mbak Winni):

 

* Usia 2,5 tahun

Anak mulai mengerti konsep jenis kelamin (laki-laki dan perempuan), mulai ajari anak tentang jenis kelaminnya. Jangan menyebut alat kelaminnya dengan “memek”, “wiwit”, “uwik” dll (untuk perempuan) tapi sebutkan vagina (karena memang istilah medisnya begitu, gpp) atau sebut saja “alat kemaluan” atau “kemaluan”. Dan untuk anak laki-laki, jangan menyebut alat kelaminnya dengan “burung”, “belalai”,  “gajah”, ini menyebabkan anak bingung, lho apa bedanya dengan burung yang bisa terbang, atau dengan gajah di kebun binatang? Nah loh.. bingung kan?. Tapi sebut saja  penis (istilah medis) atau sebut saja dengan “alat kemaluan” atau “kemaluan”. Hal ini membuat anak malu jika alat kelaminnya diumbar ke orang lain. Hal ini sesuai dengan ajaran Al-Qur’an yang menyebut langsung dengan isltilah furuj (kemaluan), Al-Quran tidak pernah mengganti dengan sebutan gajah, burung dst, hehehe…

  • Mulai ajarkan anak tidur terpisah dari orang tua
  • Anak sudah bisa bermain peran, hati-hati!! jangan berhubungan di dlm kamar yg sama tempat anak tidur, meski kelihatannya si anak tidur.
  • Jangan mandi dengan anak meskipun sesama jenis kelamin.
  • Jika mandi dengan saudaranya (kakak-adik) tetap gunakan celana pendek
  • Al-Quran mengajarkan untuk menjaga pandangan, so ajari juga anak untuk menjaga pandangannya, wuiikk susah dong?? g juga, jangan berpikir ekstrim dulu, sederhana saja.. mulai dari ibu/bapak ganti bajunya di kamar tertutup, keluar kamar mandi sudah pake baju, ajari anak ganti baju di kamar dan g ada yang boleh ngelihat.
  • Untuk mengenalkan jenis kelamin yang berbeda, ajak anak menengok adek bayi, jelaskan kalo begini laki-laki dan begitu perempuan. Kata papanya Liv: InsyaAllah kita ga perlu nengok bayi tetangga untuk menjelaskan ke anak2, kasih adek bayi aja terus ya ma… wakakkk
  • Jangan lupa setiap menjelaskan kpd anak, kembalikan semua kpd Allah. seperti: Subhanallah, Allah maha hebat ya, menciptakan laki2 dan perempuan.

** 5 tahun

Usia ini anak banyak bertanya, bahkan kadang2 pertanyaannya diluar dugaan dan logika orang dewasa. Dia sudah bisa membedakan mana teman yang ganteng, cantik, pas-pasan. Dia sangat kritis, dan teramat sangat mau tahu sekali. Minat mereka sangat tinggi terhadap perkawinan, kak liv pernah bilang: mama nanti kalo sudah besar aku mau nikah sama dek Tangguh habis itu aku mau punya anak yang buwanyaaaakkkk banget.. (Alkhamdulillah, walaupun konsep menikahnya masih salah paling tidak dia tahu kalo mau punya anak harus menikah)

  • Jangan membunuh rasa ingin tahu anak
  • Jangan gugup dan tergesa2 menjawab pertanyaan anak
  • Setiap anak bertanya, tanyakan lagi: Kalo menurut kamu bagaimana? Yang kamu tahu apa? jangan-jangan dia maksudnya kemana.. kitanya kemana..
  • Jawab sesuai dengan tingkat berpikir dan bahasa anak
  • Kalo bingung atau tidak tahu jawabannya, katakan: maaf ibu belum tahu jawabannya, kita cari tahu yuk atau ibu tanya ke yang lebih tahu ya.. dan segera jawab ketika sudah tahu jawabannya.
  • Jangan sampek anak mencari jawaban rasa ingin tahunya dari sumber lain, karena bisa jadi informasinya menyesatkan.
  • Kenal teman main anak, kenali kebiasaannya, mainannya, tontonannya, orang tuanya
  • Jika perlu ajak orang tua teman anak untuk saling mengawasi
  • Anak sangat penasaran tentang sejarahnya.. Tunjukkan foto pernikahan ibu/bapak,kembali ke syariat: setelah mama/papa menikah, Allah mengkaruniakan anak kepada kami, yaitu kamu sayang..
  • Ajarkan anak tentang najis dan berwudlu. Misalnya ketika pipis atau ngompol katakan itu najis, harus dibersihkan.
  • Ajarkan anak aturan masuk kamar orang tua (ketuk pintu dulu).

woahahhhahh.. ngantukk.. padahal masih ada dua point lagi yaitu prabaligh dan cara menjawab pertanyaan “horor” mereka..

bersambung ya.. semoga bermanfaat.. 🙂


Comment please..

Discussion

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Sharing seminar “PeDe Bicara Seks Dengan Anak” (bag.2) | zamzama.web.id - July 5, 2011

  2. Pingback: Sebelum 9 tahun Bunda.. | Zamzama's - October 4, 2011

Leave a Comment

Your email address will not be published.


− 4 = one