//
you're reading...
Home Education

Mama, Aku Mau Ulang Tahun…

Begitulah rengekan Liv akhir-akhir ini. “Si I aja kalo ulang tahun bagi-bagi kue, nasi sama jajan, A juga ulang tahunnya ada balon-balonnya, pake baju princess.. aku mau mama. Kapan aku ulang tahun?”. Duhh.. bunda-bunda, pernah juga nggak sih ngalamin yang demikian?

Sempat terpikir mau ngikutin keinginan kak Liv, ahh bikin ulang tahun sederhana aja, yang penting anak senang. Tapi dalam hati ada sedikit keraguan, “emang boleh ya ulang tahun?”. Akhirnya kuputuskan untuk mencari tahu terlebih dahulu, dan dapet artikel lengkap plus dalil-dalilnya. Di beberapa situs (silahkan searching sendiri dengan keyword “Hukum ulang tahun”), secara garis besar ulang tahun, jika diniatkan sebagai ibadah maka hukumnya bid’ah. Dan jika diniatkan sebagai adat merupakan tindakan tasyabbuh (meniru budaya non Islam) dimana jelas Rasulullah panutan kita bersabda “Artinya : Barangsiapa meniru-niru suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”. Selengkapnya bisa dibaca disini.

Sementara dari situs Nahdhatul Ulama’, menyebutkan boleh dengan alasan setiap tindakan bergantung pada niatnya. Begitu juga ulang tahun, “Kaum Ahlussunnah Wal Jamaah memandang tradisi semacam ini dengan sikap proporsional, yaitu dengan pendirian bahwa selama di dalam acara tersebut ada unsur-unsur kebaikan dan selama tidak ada hal-hal yang munkar di dalamnya. Misalnya : menyalakan lilin, memasang gambar patung (walaupun berukuran kecil) di tengah-tengah kue yang dihidangkan atau alatul malahi (alat permainan musik) yang diharamkan. ”

Degg.. Astaghfirullaahal’Adziim.

Dalam hal ini, ada dua hal yang menurut saya perlu diperhatikan yaitu, Acara ulang tahun itu sendiri dan dunia indah anak yang (anak manapun pasti suka dan menginginkannya) harus kita hormati dan kita jaga.

***

Acara ulang tahun

Bagi yang lebih condong dengan pendapat pertama (ulang tahun adalah bid’ah dan tasyabbuh) tentu tak perlu ragu lagi alias TIDAK ada yang namanya ulang tahun. Sedangkan bagi yang lebih condong ke pendapat kedua (ulang tahun boleh) tentunya harus memperhatikan syarat-syaratnya yaitu ada unsur-unsur kebaikan dan selama tidak ada hal-hal yang munkar di dalamnya.

Apakah unsur kebaikannya? meliputi silaturrahim, memberi makan orang lain, mendoakan anak menjadi sholeh/sholehah.

Dan berhati-hatilah dengan syarat kedua yaitu tidak ada hal-hal munkar didalamnya seperti, meniup lilin, memasang gambar patung (walaupun berukuran kecil) di tengah-tengah kue yang dihidangkan atau alatul malahi (alat permainan musik) yang diharamkan. Begitu juga mengucapkan semoga panjang umur, hendaklah diikuti dengan “dalam ketaatan padaNya”, atau semoga dilimpahkan umur yang barokah.

Tentunya berhati-hati itu lebih baik.

***

Dunia Anak

Inilah yang saya bingungkan, gimana nih njelasinnya ke anak yang belum masuk usia SD? Tidak ada yang membantah, dunia anak adalah dunia yang indah, imajinasinya liar mengembara, mereka mampu membayangkan apa yang tidak bisa dijangkau oleh akal pikiran orang dewasa. Dan tentunya dunia indah penuh balon aneka warna, memakai baju terbaik, semua mata memandang dan memperhatikannya, dia menjadi ratu/raja hari itu. Dan betapa senangnya ketika dia bisa memberi ke orang-orang terdekatnya, betapa senangnya ketika mendapat hadiah indah dari orang-orang terdekatnya.

Ada beberapa hal yang bisa disiapkan bunda untuk menghindari “ulang tahun”

Paparan agama sedini mungkin, seindah mungkin

Bukan berarti anak diwajibkan sholat, puasa, hafalan doa-doa dan kewajiban lain seperti orang dewasa. Mengakrabkan anak dengan kata “Allah sayang ya sama kita”, dan mengakrabkan dengan idola terbaik Muhammad SAW. Bagimana sejarahnya, welas asihnya ke sesama (untuk yang satu ini ada buku yang menceritakan perkejadian contoh indahnya akhlak Rasulullah). Jika anak sudah akrab dan dekat, insyaaALLAH akan lebih mudah memberi pemahamannya.

Gali informasi sejauh apa pemahaman anak tentang ulang tahun

Sebenarnya anak tidaklah terlau peduli dengan istilah, mau ulang tahun kek, atau apalah acaranya. Bahkan banyak dari mereka nggak mengeti apa sih ulang tahun itu. Percaya-tidak percaya, ternyata dibalik kengototan Liv minta ulang tahun, ternyata dia sendiri tidak paham betul.

M (Mama): Ulang tahun itu apa sih?

L (Liv): “Iiih mama masak nggak tahu sih, ulang tahun itu kita pake baju bagus, terus ada balon-balonnya, ada kuenya, trus makan bareng teman-teman. pokoknya asyiikkk banget ma” (Jawabnya agak ketus gitu, karena beberapa hari mamanya menghindar dan nggak mau janji buat ngerayain ulang tahunnya)

M: “Hmmm, jadi pengennya pake baju bagus, ada balon, ada kue trus makan-makan bareng nih?”

L: “Iyak betul mama. boleh ya..??”

M: “Oohh gitu, trus kapan mau ulang tahunnya?”

L: “Kalo besok aja gimana? aku mau ngundang bla..bla..bla..” (disebutnya nama orang sekampung, sampek uti dan mbahbuknya nun jauh di Lamongan juga mau diundang)

M: “Wahh nggak boleh kalo besok, kan besok bukan hari ulang tahun kak Liv”

L: “Lho.. trus kapan bolehnya, emang kapan hari ulang tahunya kak Liv?”

M: “Yang disebut hari ulang tahun, hari tanggal dimana kita dilahirkan, nah kak Liv lahir pada tanggal 27 Februari, maka kalo mau ulang tahun juga harus nunggu tanggal 27 Februari” (Kuambil kalender dan menjelaskan lebih lanjut).

L: “Ya.. masih lama doong. Padahal kak Liv pengen banget”.

Beri pengertian, bahwa tidak harus nunggu ulang tahun kalo mau bersenang-senang atau memberi makan

M: “Sayang, memberi makan orang itu perbuatan baik sekali, Allah sangat suka, Rasulullah adalah orang yang paling sering memberi makan orang lain. Memberi teman kue, menyenangkan orang lain juga perbuatan baik. Kenapa harus nunggu hari ulang tahun?”

L: “Tapi kalo ulang tahun pake baju princess”

M: “Kak Liv kan sudah punya 3 baju princess bikinan uti. Apa mama bilang ke uti supaya bikin baju buat kak Liv cuma saat ulang tahun saja?”

L: “Jangan mama, kalo ulang tahun itu ada banyak balon-balonnya, ada kuenya yang bagus”

M: “Ooh, jadi maunya mama beli kue, balon cuma pada saat kak Liv ulang tahun? ”

L: “jangan mama..”

hehehe…

 Membuat momen-momen indah bersamanya

Percayakah bunda, ternyata ketika kita membelikannya baju, mainan dan lain sebagainya untuk anak kita, dia mengannggap itu kewajiban, kemudian melupakannya seperti angin lalu. Seperti ketika Liv mendapat hadiah laptop dari papanya, mainan dan baju dari nenek dan om-omnya, dia masih bertanya “mana hadiahku?”. Yup, hadiah adalah segala sesuatu yang dibungkus kado, itulah definisi yang ada di kepala anak. Sehingga sekarang, terkadang saya membungkus pemberian untuk Liv dengan kado dan tak lupa kartu ucapan yang isinya betapa kami sayang dan doa-doa kami. “Horee, aku dapat hadiah”. Dan tak lupa selipkan kata-kata “enak banget jadi kakak, nggak pake nunggu ulang tahun dapet hadiah”.

Jangan lupa mengenalkan anak dengan kebiasaan baik memberi makan orang lain. Pernah suatu ketika papanya pengen makan nasi kuning, setelah berunding dengan papanya, saya memasak agak banyak dan membagi-bagikan ke tetangga (teman-temannya Liv). Begitu juga ketika bikin donat, dengan senang dia membagikannya ke teman-temannya. dan seterusnya..dan seterusnya.. Dan jangan lupa sisipkan kata-kata “Tak harus nunggu ulang tahun  buat ngasih ke teman dan bersenang-senang”. Bahkan jika perlu ucapkan itu di depan teman-teman anak kita.

Bermain dengan balon, melempar-lemparkannya, mengejarnya, meletus dan kaget sangat menyenangkan. Bisa divariasi dengan permainan “harus apa” dengan memasukkan menuliskan perintah di kertas dan memasukkannya ke dalam balon. Dan tidak hanya Liv, Tangguh bahkan si kembar Xandra-Xandri juga sangat senang sesi mainan yang satu ini.

Beri kesempatan “Iam the princess”

Bahkan dulu ketika saya masih kecil dan belum ada barbie dan princess seperti sekarang ini, saya sering membayangkan saya adalah seorang putri yang memakai baju terindah menjuntai ke tanah, memakai mahkota, sepatu berhak tinggi, naik kereta kuda yang indah. Bisa dibayangkan anak kita sekarang, gempuran informasi dari berbagai media tentang keberadaan princess tentu semakin melambungkan angannya.

Apalagi princess identik dengan kemewahan, baju serba indah tinggal di istana, bahkan ada beberapa yang bajunya sensual sekali, bertemu dengan pangeran tampan yang baik budi. Wooww siapa yang tidak ingin…

Saya sendiri sempat kewalahan, ketika Liv meminta buku barbie, tas barbie, video barbie dan segala sesuatu yang berbau barbie. Meskipun di rumah tidak TV dan tidak ada satupun assesoris barbie, tapi hampir semua teman perempuannya memakai baju barbie, sendal barbie, tas barbie, topi barbie dan bercerita tentang barbie.

Melarangnya sama sekali tentu tidak mungkin dan percuma, karena dia akan mendapat informasi dari luar. Yang bisa saya lakukan adalah mengimbangi informasi yang masuk dengan tetap menceritakan tentang kisah orang-orang sholeh dengan segala kebaikan dan perjuangannya yang jauh lebih hebat dari barbie.  Syukur Alhamdulillah, ada buku princess muslimah terbitan DAR Mizan. Princess yang berberjilbab, indah akhlaknya, dengan nama-nama indah asmaul husna sehingga secara tidak langsung anak mengenal lebih dekat nama-nama ALLAH.

Di rumah saya bebaskan Liv berekspresi menjadi princess, memakai baju princess panjangnya, lengkap dengan bando bunga-bunga dan mahkotanya.Tak jarang dia dia meniru dandanan princess-princess muslimah tersebut. Dan yang harus dikorbankan adalah beberapa jilbab, pasmina dan dalaman jilbab serta assesoris jilbab saya. Mama ikhlas koq… 😀

Saya ingin Liv merasa nyaman, rumah adalah tempat dia mengeluarkan uneg-unegnya, mengekspresikan segala imajinasinya, mewujudkan impiannya ingin menjadi apa.

***

Dan gempuran ghozwul fikri itu tidak berhenti sampai disini, masih banyak bergentayangan dalm bentuk dan rupa yang lain. Semoga sebagai orang tua kita bisa membentengi jiwa-jiwa kecil yang ALLAH titipkan pada kita. Wallahua’lam…

Tulisan ini tiada maksud menyinggung siapapun, hanya  kegalauan saya semata dan keinginan berbagi jikalau ada juga yang segalau saya. 🙂


Comment please..

Discussion

No comments yet.

Leave a Comment

Your email address will not be published.


9 + = fourteen