//
you're reading...
Uncategorized

Kutitipkan Rasa

Pernah denger gak ungkapan sejenis “kalo ada mamanya tuh manjanya gak ketulungan”, atau “kemaren-kemaren mau tuh mandi sendiri, pas mamanya pulang gak mau, mintanya dimandiin mamanya”, atau “maunya sama mama”, padahal biasanya juga bisa sendiri.

Wakakak… tepok jidat ?

Semoga aku tak sendiri, jadi kalo kalian mengalami hal serupa, bilang ya maks, biar aku punya alasan pembenar #eh.

Apakah itu suatu kemunduran? Apakah ibu penyebabnya? Apakah ibu tidak tegas, tidak disiplin? Lebih parah lagi, apakah ibu gagal mendidik?

Serem amat tuduhannya kakak…

Silahkan baca artikel ini deh, biar agak legaan hati kita??.

Konon, berbahagialah wahai emaks sedunia, segala sikap manja, rewel, bahkan permintaan yang absurd dan tak masuk akal itu artinya anak-anakmu mempercayakan “rasa” nya padamu. Dia berani tampil apa adanya di hadapanmu, tanpa perlu jaim, tanpa perlu harus menjadi yang terbaik dan sempurna.

Lelah, marah, bosan, lapar, takut, sedih, senang, gelisah semua tumpah ruah dihadapanmu. Karena baginya dirimu adalah sumber kebutuhan dan keberlangsungan hidup mereka.  Kalo kata adit-sopo jarwo, I can’t live without you mak.

Itu kenapa mereka selalu caper pada ibu mereka. Contohnya nih, di rumah dalam satu waktu per sekian detik, aku bisa dipanggil tiga atau empat anak bersamaan. Menjawab pertanyaan mereka berbarengan. Menanggapi keluhan mereka berbarengan. Memuji hasil pekerjaan mereka, bahkan menyelesaikan perselihan diantara mereka. Dan semua itu seringnya masih disambi dengan pekerjaan lain, nenenin bayi, beres-beres, belajar, masak dan lain-lain. ?

“Ma, bagus ya legoku?”

“Ma, adek nih rebut makananku”

“Ma, gimana ya caranya bikin robot?”

“Ma, yang dapat sebutan Singa Allah siapa?”

In one time sodara, wakakak… ?

Alhamdulillah wa ma syaa fa’al, Maha Besar Allah menciptakan otak, mulut, tangan dan kaki perempuan yang multi tasking, multi talenan, multi ulek-ulek, multi disiplin kelimuan (ipoleksosbudhankam), palugada (apa loe mau gue ada). Seng ada lawan lah pokoknya ?

Sementara disisi lain, peran ayah adalah menumbuhkan kepercayaan, keberanian, teman bermain mereka. Sehingga anak-anak menganggap peran ayah “tidak terlalu penting” (dalam tanda kutip ya… duuh takut digeruduk PBSI-Persatuan Bapak Seluruh Indonesia-).

Punten ya para bapak… jangan minder bin sedih, puk… puk… Ya namanya juga anak-anak, nalarnya belum sempurna, emosi dan rasanya sedang tumbuh. Seiring berjalan waktu mereka akan paham betapa besar peran bapak.

Pernah dengar kan anak bilang “kalo mau beli susu kan gampang, kita tinggal ke atm ambil uang trus beli”. Wuaahh… dia kira atm bisa diambil seenaknya sendiri ??.

Ya… begitulah, peran bapak yang besar sering kali tak terlihat. Maka ngomellah mak, ceritakan peran besar bapak, sang Khalifah di rumah ini.

Balik lagi ke artikel tadi, trus apakah semua itu jadi pembenaran buat kita bahwa biarin aja deh anak-anak rewel dekat sama emaknya. Aah itu tandanya mereka sayang ke kita. Haissh…

Tidaaaqqq…. aku gak bakal tahan dengerin ngambek, penolakan, rengekan, amarah terus-terusan. Plus gak baik juga kalo diterus-teruskan, karena anak-anak ini kelak akan besar dan jadi bagian masyarakat.

Maka mengkomunikasikan adalah pilihan terbaik menurutku.

* Identifikasi kebutuhan anak, apakah ini jam tidurnya? Apakah dia sudah makan? Apakah berkeringat dan risih? Apakah sakit? Apakah rindu? Pengen main bareng? Ataukah kitanya yang terlalu sibuk, sehingga mendzolimi mereka?

* Mengajarkan mengeluarkan isi hati.
“Coba bilang baik-baik minta apa?”
“Mama gak ngerti kalo adek nangis, tapi mama in syaa Allah ngerti kalo adek ngomong mau apa”.

Jika masih belum bisa mengutarakan isi hati, bisa dibantu dengan “mau makan? Minum?, mau mainan yang mana? Tunjuk ya… “.

Tapi jika berlanjut maka…

*Abaikan
Yup, tidak salah baca. Jika ragam solusi yang ditawarkan tidak mempan, maka sebenarnya anak tidak sedang membutuhkan solusi tapi hanya butuh melampiaskan emosi dan energinya. So.. Let it be, let it go… sok atuh kalo mau nangis, nanti kalo sudah lega mama kesini.

* Istiqomah alias konsisten
Hey kids, Don’t ever try to break the rules. Seringnya anak-anak menggunakan rengekan, tangisan, tantrum untuk menguji kita, “siapa tahu mama-papa mau merubah pikiran, mau merubah aturannya”.

Wakakak… namanya juga nyoba, kali aja boleh makan permen atau chiki lagi. Kali aja kalonnangis jam ngegame atau nonton nambah, kan lumayan. ?

Jangan tergoda mak, be cool, calm, confident. Dengan komunikasi yang baik, pada akhirnya mereka akan tahu, aturan dibuat untuk kepentingan dan kebaikan bersama.

* Alihkan energi dan perhatiannya ke hal-hal lain yang menyenangkan dan baik untuknya. Meski ya… sejujurnya kadang memang butuh energi lebih, mengesampingkan me time kita seuprit, mengorbankan kepentingan yang lain. Tapi yakinlah, seeemuuuaaanyaaa akan indah pada masanya in syaa Allah.

*Selesai? Ya nggak lah… semua butuh waktu, butuh proses, gak ada yang langsung jadi. Karena disitulah Allah meletakkan jihad kita. Karena disitulah Allah senang ketika kita berlelah-lelah, merengek-rengek kepadaNya. Karena siapa tahu, disitulah mutiara penambah timbangan kebaikan kita nanti.

****

Cuma disclaimer aja, bukan tulisan pakar parenting atau sejenisnya, masih sering ngomel sama anak, masih sering bilang “Rasulullah itu berhenti makan sebelum kenyang, dan baru makan setelah lapar”, tapi lihat sambel teri pete di meja makan sering khilaf tetiba auto pegang piring, mana sering pulak khilafnya. ??


Comment please..

Discussion

No comments yet.

Leave a Comment

Your email address will not be published.


− three = 3