//
you're reading...
Public Health

SAKIT ITU BERNAMA FAKIR

Tulisan ini adalah tulisan saya di blog saya yang terdahulu, namun sekarang saya ingin fokus di blog yang ini saja. Lebih keren, lebih bondo karena bukan gratisan hostingnya, ciyeee.. padahal sayanya dapetnya juga gartis dari suami tercinta pemilik PERDHANAHOST.

Sore kemaren, secara tidak sengaja, aku ketemu sama keponakan tetangga depan rumah sebelah kiriku. ibu muda itu sedang menggendong balitanya. Balita bertubuh kurus itu terlihat tidak bisa diam, minta turun, jalan dan mainan… Ada sesuatu yang beda!! Subhanallah bukannya itu balita yang divonis dokter tak berumur panjang,karena ada kebocoran di katup jantungnya?? dengan hati berdebar2 kulihat dengan seksama.. iya betul.. (maklum, sebenarnya yang jadi tetangga itu pak de ibu muda itu, dia jarang sekali main kesana)..
Dengan hati-hati karena takut tesinggung aku bertanya, mbak, maaf ini keponakannya Riva (teman maen liv, adik ibu muda ini)? iya betul jawabnya.. subhanallah.. mulutku tidak bisa menyembunyikan kekagumanku pada-Mu, Yaa As-Syifa’..
Masih teringat di kepalaku, tiga bulan lalu aku sampai tidak tega menyentuh balita 16 bulan ini, karena tubuhnya yang kecil seperti bayi 3 bulan itu hanya diam lesu digendongan kakeknya, dengan selang infus yang ditanam dihidung kecilnya selalu setia menemaninya karena tidak satupun makanan bisa masuk kecuali ASI. Dan jika diamati dengan seksama, dadanya yang kurus itu menampakkan setiap denyut jantungnya..
Singkat kata kamipun duduk-duduk didepan rumahku. Dia bercerita tentang perjuangan mereka untuk Alfi (demikian panggilan balita itu).
Alfi mengalami kelainan pada katup jantungnya semenjak janin, alias “dari sononya” begitu ibu muda itu memulai ceritanya. tapi karena terbentur masalah dana (lagi-lagi) dan kesehatan Alfi, operasi belum bisa dilakukan. Hingga dua bulan lalu, mereka mendapat telpon dari RS jantung Harapan Kita Jakarta, kalo alfi bisa dioperasi pekan ini, dengan perkiraan biaya Rp.60 juta. Sebuah angka yang fantastis dan terlihat tidak mungkin bagi pasangan muda ini.
Dengan berbekal doa dan surat keterangan tidak mampu, mereka meminta bantuan kepada LKC (layanan kesehatan Cuma-Cuma) dan Dinas kesehatan Depok. Alhamdulillah, mereka mendapat Rp.30juta dari Dinas Kesehatan Depok, namun tidak sesuai dengan harapan dan janji LKC yang semula berjanji menutup 50% dana operasi, ternyata hanya mampu memberi RP.5juta.
Dengan mata berkaca2 ibu muda itu berkata: Saat itu Alfi sudah dua hari di RS, dan menjalani berbagi macam tes pra operasi, serta puasa. Walaupun dokter pernah berkata, kami tidak boleh berharap terlampau banyak terhadap operasi ini, hanya kebesaran-Nya yang bisa menyembuhkan Alfi, tapi bagi saya, operasi ini adalah awal dari segalanya. Harapan saya untuk melihat Alfi sembuh, sehat dan ceria seperti layaknya balita lain seakan sirna ketika suami saya mengatakan, Alfi tidak bisa dioperasi karena biaya. Saya marah, takut, kecewa dan kasihan melihat anak saya.
Suami saya kemudian menghadap bagian administraasi RS Jantung Harapan Kita dan menyatakan pembatalan operasi karena ketiadaan biaya..
Ternyata, jika operasi dibatalkan pun, kami tetap harus membayar Rp.2juta rupiah untuk biaya rawat inap 2 hari dan serangkaian tes pra operasi Alfi. Suami saya tertunduk lesu dan mengatakan tidak punya uang sebesar itu.
Alhamdulillah, bapak bagian administraasi RS Jantung Harapan Kita tadi (maaf saya tidak tahu namanya) menyarankan ke peduli kasih indosiar untuk meminta bantuan kekurangan dana buat operasi Alfi. Ya Allah hanya kebesaran-Mu lah, Alfi bisa menjalani operasi dengan lancar.
Tahukah pembaca mengapa Alfi mengalami kelainan jantung sejak di kandungan??
Ya, tidak lain dan tidak bukan , malnutrisi penyebabnya. himpitan ekonomi, yang menyebabkan ibu muda ini sehari2 hanya makan mi instan yang sebungkus pun harus dibagi berdua dengan suaminya.


Comment please..

Discussion

No comments yet.

Leave a Comment

Your email address will not be published.


7 − = five