//
you're reading...
Uncategorized

Kemping di Pulau Dolphin

“Kapan kita ke ancol lagi?” Bagitulah… air memang selalu memikat anak-anak. Sebagai bridge (you are our bridge, sebutan papanya untukku), aku diskusikan permintaan anaknya ke papanya.

Dengan pertimbangan, pantai ancol sudah pernah, tidak alami lagi, dan gak dapat feel “anak pantai”nya, kami berencana mengajak anak-anak ke kepulauan seribu. Letaknya dekat dengan Jakarta (hemat transportasi dan waktu) dan ragam pilihan pulaunya pun banyak.

Berselancarlah kami di internet. Hingga ada tawaran dari komunitas Independent Hiker untuk kemping ceria di 0mdpl (pantai), dan dipilihlah Pulau Dolphin dari ratusan pulau yang ada di kepulauan seribu.

**************

“Ada lumba-lumbanya ma?”
“Gak ada, itu cuma nama pulaunya aja”  jelasku. Seperti biasa, ketika merencanakan mau pergi kemana, hunting informasi is a must. Nyari-nyari di yutub, rute perjalanannya, gambaran pulaunya seperti apa, bekal yang harus dibawa dan perlengkapannya juga.

Dari yutub kami tahu untuk sampai di pulau dolphin, kami harus menempuh perjalanan 3 jam diatas kapal menuju pulau Harapan (pulau paling besar disan , ramai yang digunakan sebagai pulau transit) untuk kemudian lanjut 1 jam perjalanan laut lagi ke pulau dolphin atau pulau-pulau kecil lainnya.

Meski perjalanan kami kali ini bareng-bareng dan dibantu akomodasinya oleh seorang teman di komunitas Independent Hiker. Tetep… kemandirian harus ditanamkan pada anak-anak, sebisa mungkin tidak merepotkan orang lain, meski biasanya banyak sekali yang “memaksakan” bantuan pada kami. Bawain tas, gandeng atau gendong tiga balita, ngawasin anak-anak main, nawarin jajanan dan makanan dan lain-lain. Mungkin mereka gak tega lihat rempongnya dan segambrengnya barang bawaan kami, kan aku jadi keenakan, wakakak.

Alhamdulillah dikelilingi teman-teman yang peduli.

Berangkat dari Depok via KRL menuju st. Jakarta Kota jam 8 malam. Lanjut dengan taxi online menuju rumah teman di Muara Angke. Sebenarnya kami (saya dan papanya) sepakat setiap bepergian bersama papa, diusahakan menggunakan moda transportasi umum, selain lebih murah, juga melatih ketahanan, kesabaran, kepedulian, disiplin waktu, konsentrasui dan banyak hal yang bisa dipelajari di jalanan.

Namum apalah daya, backpack kami yang segede anak sapi dan kondisi anak-anak tidak memungkinkan (ngantuk)  naik busway di jumat malam yang padat.

**************
Jumat malam itu kami sekomunitas berkumpul di rumah teman di muara angke, dekat dengan pelabuhan. Sabtu pagi sekitar pukul 6 kami berangkat ke pelabuhan. Bayi dan anak-anak naik mobil, sementara yang besar naik odong-odong. Ternyata odong-odong jadi sarana transportasi disini, karena tak ada sarana transportasi resmi. Bau ikan asin menyapa disepanjang perjalanan menuju pelabuhan, hmmmm jadi kangen sambel terasi, pete, lalapan dan nasi anget kebul-kebul. Hmmm yummy..

Harga tiket Rp.69.000 /orang

Harga tiket Rp.69.000 /orang

IMG_20191220_141727

Sekitar pukul 7 kami naik kapal kayu yang bermuatan kurang lebih 250 orang. Ohya, just info ada dua jenis kapal yang bisa dinaiki untuk menyeberang ke pulau seribu. Satu, kapal kayu dari muara angke seperti yang kami naiki, dengan harga tiketnya murah  meria, no AC, duduk empet-empetan, ketemu berbagai macam orang dan barang. Atau yang kedua, naik kapal feri cantik dari pantai marina Ancol dengan harga tiket ke pulau yang sama (pulau harapan) 3 atau 4 kali lipat (silahkan gugling ya gaees) yang tentunya fasilitas dan kapalnya juga lebih nyaman dan wow dibanding kapal kayu yang pertama.

Pukul 07.30 sampai pukul 08.00 kapal-kapal yang merapat di Muara Angke mulai bergerak sesuai pulau tujuan. Begitupun kapal yang kami tumpangi

Alhamdulillah, anak-anak aman terkendali, meski gerah karena kipas angin terdekat kami macet, tapi mereka lebih excited dengan pemandangan laut yang Allah hamparkan. Biru… hijau seperti puding lapis bertopping pulau-pulau imut nan hijau. Sesekali berlomba dengan kapal kayu penumpang lain atau kapal nelayan, atau kapal boat.  Seruuu….

IMG_20191221_115649

IMG_20191220_142046

Sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan pulau-pulau kecil di tengah laut. Subhanallah

maps

Kepulauan Seribu terdiri dari pulau-pulau karang sebanyak 105 buah dengan total luas wilayah daratan sebesar 8,7 km². Namanya Kepulauan Seribu bukan berarti pulau-pulau di dalam gugusan kepualaun itu berjumlah seribu. Jumlah pulau itu hanya sekitar 342 pulau, termasuk pulau-pulau pasir dan terumbu karang yang bervegetasi maupun yang tidak. Pulau pasir dan terumbu karang itu sendiri berjumlah 158. Tidak semua pulau yang termasuk di dalam gugusan Kepulauan Seribu didiami manusia. Sebagaimana banyak pulau-pulau lainnya di Indonesia, sebagian besar pulau di Kepulauan Seribu tidak berpenghuni. (wikipedia)

Cuaca hari itu sangat cerah, alhamdulillah, sedikit mengurangi kekhawatiran saat diri di laut luas. Ya Rabbana Maha Pencipta Engkau.

Ohya, kata beberapa teman di pulau harapan atau pramuka (pulau besarnya kepulauan seribu) banyak calo yang biasanya akan menawarkan harga yang sangat tinggi untuk naik kapal menuju pulau kecil-kecil tujuan. Jadi cari-cari info dulu ya sebelum berangkat kesana. Alhamdulillah kami ada teman yang membantu mengurus akomodasi sekomunitas sudah paham betul dan sudah punya langganan sendiri.

IMG_20191220_142411

Anak-anak itu ya, gak perlu tahu nama, siapa kamu, langsung aja main bareng. What a wonderfull life ????

IMG_20191220_142606

Sesampai di pulau harapan pukul 11, kami istirahat di RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak) untuk makan siang dan shalat dhuhur. Pukul 01 lanjut perjalanan dengan kapal kecil (perahu kali ya) menuju pulau Dolphin.

IMG_20191220_184245

Setengah jam kemudian sampai di Pulau Bira (kata bapak pemandu snorkling) untuk diving melihat koral, karang dan aneka ikan. Maa syaa Allah biarpun mata perih kecipratan air laut, anak-anak semangat. Kalo capek merapat ke tangga perahu, usap muka, nyemplung lagi. Gosoong? Emang mereka pikirin.Yang phobia gosong kan emaknya selaku penyandang predikat perempuan paling gosong di rumah. Sunscreen, pake topi nyari tempat adem, tapi tetep gosong ????

IMG_20191220_142849

Ngotot pengen nyemplung, padahal pelampungnya kegedean. Akhirnya pake pelampung yang ada, iket kuat, dipeluk papa. You’re rock dad

IMG_20191220_142937

Setelah diving perahu kami lanjut ke pulau Gusung, aku menyebutnya pulau Gosong, karena panasnya yang ampuunn. Pulau kuwecil yang tak bervegetasi, yang tampak hanya jika laut sedang surut dan tenggelam saat laut pasang.

Pulau Gusung dari kejauhan. Wait for me gosong, eh gusung.

Pulau Gusung dari kejauhan. Wait for me gosong, eh gusung.

Ada yang latihan poto-poto.

Ada yang latihan poto-poto.

Lanjut perjalanan setengah jam ke pulau Dolphin.

Fasilitas yang disediakan di pulau Dolphin adalah area kemping, warung 24 jam ,kamar mandu air asin (menyediakan air tawar, payau tepatnya Rp.5000 per jerigen kecil 5 ltr, atau Rp. 10.000 per jerigen besar 12 ltr).

IMG_20191220_143627 IMG_20191220_143556

Dan teuteuupp… papanya mendirikan tenda, bocah-bocah langsung nyebur ke pantai depan tenda kami. Padahal kalo kemping di gunung semua-mua seneng bantuin pasang tenda. Lagi-lagi ada teman baik hati yang bantuin papanya, secara tenda kami gede sudah kayak mau undang orang pengajian. ????

Keluar airnya cuma buat shalat dan tidur

Eh iya, just info lagi, buat yang gak suka kemping, bisa pilih pulau yang menyediakan cottage. Tentunya harus merogoh kocek lebih.

Karena kami suka kemping dan memang hampir semua perjalanan kami low budget (iya, aku tahu kamu mau bilang aku #emakmatre kan ?) , maka kemping menjadi cara kami menyiasati pengeluaran liburan. Pun dengan kebutuhan makan, meski di pulau Dolphin ini ada warung 24 jam, kami memilih masak sendiri makanan kami.

Warung adalah the last choice saat bekal habis atau kondisi yang tidak memungkinkan (harap maklum, #livingwith3balita).

Pada malam harinya bulan purnama, air laut seperti tersedot ke tengah menyisakan daratan luas di bibit pantai, Subhanallah.

Sorenya daratn itu tertutup air laut

Sorenya daratn itu tertutup air laut

Seperti yang pelajaran fisika bilang, pada malam hari terjadi angin darat, yaitu angin yang bertiup dari darat ke laut karena perbedaan suhu dan tekanan air di darat dan laut. Maka malam itu gerah sekali, papanya anak-anak 1-4 memilih menggelar fly sheet di luar tenda, anak ke 5 memilih tidur di hammock. Tinggallah aku, baby dan anak ke 6 yang tidur di tenda dengan pintu setengah terbuka.

IMG-20191217-WA0006

Bangun tidur ngapain? Habis subuh nyemplung lagi ke pantai, menanti sunrise yang membentuk siluet indah di langit (puitis banget dah, tumben). Heran gak ada bosennya main air.

Menunggu sunrise, merekam jejaknya sambil momong bayi, emaknya masak. ????

Menunggu sunrise, merekam jejaknya sambil momong bayi, emaknya masak.

Duuh, gula darahku turun nih, butuh yang di wajan.

Duuh, gula darahku turun nih, butuh yang di wajan.

Jam 10 perahu kami menjemput untuk bertolak ke pulau Harapan dan cuss balik ke Jakarta. Anak-anak sedih, minta kapan-kapan balik lagi ke Jakarta.

Dear anak-anakku, ini adalah karunia Allah, buah kesabaran kalian. Menahan diri tidak jalan-jalan (baca: ngemall), tidak berenang sementara waktu , tidak nonton film yang kalian tunggu-tunggu di bioskop untuk bisa kemping di pantai.

Bersabarlah… buahnya indah pada waktunya, in syaa Allah.

IMG_20191220_143359

Good bye dolphin island… good bye hope island, good bye thousand islands, see you later in other destination, in syaa Allah.


Comment please..

Discussion

No comments yet.

Leave a Comment

Your email address will not be published.


nine + 6 =