//
you're reading...
Uncategorized

Apa (Sich) Enaknya Jadi Istri Pengusaha

Pernah main ke TRANS Studio? mall megah yang berdiri di lahan Bandung Super Mall (BSM), nggak cuma mall, tapi ada wahan bermain yang ciamik bangetzzz pake zzz. Dengan uang masuk antara 150.000-250.000 per orang, kalau seribu orang? kalau sejuta orang, kalau.. kalau? *sodorin kalkulator. Enak banget ngitung duit orang 😀

Apa yang ada dipikiran kamu ketika main kesana? berdecak kagum sambil berselfie ria? Ngitung duitnya Chairul Tangjung selaku owner? Mimpi jadi pengusaha kelas paus macam pak CT? Silahkan..silahkan… sayanya sibuk berpikir, kayak apa ya istrinya yang punya TRANS Studio? Siapa sih dia? Cantik nggak orangnya? kalau belanja harian kemana? ke Carrefour apa ke pasar sebelah (yang ini saya banget)? Bajunya merk apa ya? sepatunya? tasnya? Ssstt… uang belanjanya berapa ya? kepo, kepo dan kepo diri ini dibuatnya.

Mau tahu juga ngggak? Nih dia

Biodata
Nama lengkap: Drg. Anita Ratnasari Chairul MARS
Tempat/tanggal lahir: Jakarta, 4 November 1968
Pendidikan:
1987-1992 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (S-1)
1993-1994 Business English di Singapura
2000-2002 Pendidikan Program Pascasarjana (S-2) Kajian Administrasi Rumah Sakit Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia
Jabatan:
1994-1995 Dokter gigi di Rumah Sakit Umum Palang Merah Indonesia, Bogor
1996-2000 Dokter Gigi di Markas Besar PMI Gatot Subroto, Jakarta Selatan
2001-sekarang Chairman PT Para Duta Bangsa

Organisasi:
Pengurus Yayasan Permata Sari
Ketua Yayasan Cinta Peduli Anak

Prestasi:
Mahasiswi Terbaik Pertama Program Pascasarjana PS KARS FKM UI Angkatan 2000

(sumber: http://kumpulanberitalama.blogspot.com/2013/05/korantempo-anita-ratnasari-chairul.html)

Cantik banget kan, lembut dan anggun, nyalonnya dimana sih? kepo lagi kepo lagi. Dan kabar baiknya adalah ternyata kami sama-sama alumini Fakultas Kesehatan Masyarakat boo, bedanya bu Anita di UI saya UNAIR, bu Anita S2 saya S1. Nggak papa masih ada samanya koq 😀 (sambil berdoa semoga bisa mendampingi suami seperti bu Anita mendampingi Pak CT).

Dan Bu Anita ini, bukan wanita manja yang asal minta fasilitas mentang-mentang suaminya kaya bin raya lho. Searching saja kisah hidupnya, WOW banget juga. Dan sungguh di titik ini membuat saya seperti tertampar, sudahkah saya memantaskan diri sebagai istri seperti bu Anita memantaskan diri menjadi istri seorang Chairul Tanjung? Ayo bangun..bangun.

Ketika awal menikah bu Anita bercerita, “waktu itu belum seperti sekarang”. You know what she meant kan? Butuh waktu yang tidak sebentar untuk bisa seperti sekarang, lewat jalan yang tak selalu mulus sampai disini.  Bagaimana kisah hidup si anak singkong memang selalu menarik, bahkan ada buku biografinyanya lho.

***

“Bulan depan aku mau resign ma”, mana lagi hamil tua, “nggak nunggu lahiran dulu? tiga bulan lagi hari raya lho, kan lumayan dapat THR?”. “Now, or never” jawabnya. Dari awal menikah, niatnya memang pengen punya usaha sendiri, makanya semua resources digunakan untuk sebesar-besar kelangsungan usaha (setelah kebutuhan rumah tangga tentunya). Tapi sungguh tak pernah membayangkan akan secepat ini. Beberapa tahun usaha hosting yang djalani suami bahkan menyedot penghasilannya sebagai karyawan. istilahnya masih tombok terus. Trus nanti bagaiman? Galau tingkat dewa.

Tapi aku yakin Sang Pemberi Rejeki tak pernah tidur, tak pernah lelah mencurahkan nikmatNYA. Aku percaya dan kenal betul suami adalah orang yang sangat bertanggung jawab, tak  mungkin tak dipikirkan sebab-akibatnya. Aku yakin dengan cintanya, mungkin iya jalan kami akan terjal berliku tapi dia pasti akan selalu menggandeng tanganku, memapahku bahkan menggendongku melewati jalan itu. hiks..hiks.. kalau ingat masa itu rasanya…

Maka aku iyakan permintaannya. “Untuk terbang aku perlu dua sayap, kamu dan kedua orang tua perempuanku (mama dan ibu), bantu aku terbang ya ma, bantu aku meyakinkan satu sayapku yang lain”.  Tak hanya itu saudara-saudara, malam itu menjadi malam yang sangat panjang buat kami, berdiskusi, berencana, menyadari betapa besar resiko yang kami jalani.

Aku sadar sepenuhnya, aku dan anak-anak  adalah orang yang pertama kali  terkena imbas atas setiap kebijakan dan keadaan yang ada. Harus saling dukung, tak boleh ada saling menyalahkan. Dan ternyata sudah 4,5 tahun terlewati, hidup sebagai pemilik usaha sendiri ditandai dengan panjang rambut gondrongnya 😀 . Karena sejak melepas status sebagai karyawan suami sepertinya alergi sama kemeja dan barbar shop, eh barber shop.  Kasih foto ngak ya??

Bukan sekali dua kali kami jatuh-bangun, saling menguatkan, saling mengingatkan, saling percaya. Kalu bukan saya maka siapa lagi?

“Mereka merupakan pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka” (QS Al-baqarah 187)

Tak terkira syukurku, kami bisa melewati semua ini. Ada banyak cerita suka dan duka yang tak mungkin saya tulis semua disini. Tapi tenang saja, insyaaALLAH (doaku) suatu saat ketika suami sudah “besar” dan kehidupannya dikepoin orang, akan terbit buku biografi macam Si Anak Singkongnya CT, dan saya harus bersiap-siap foto berkebaya, eeaaa. Boleh dong mimpi, mimpi bisa jadi bagian dari doa, insyaaALLAH. Kalau ada yang bilang, mimpi jangan ketinggian, kalau jatuh sakit. Kalau mimpi kita nggak tinggi mana bisa kita terbang ke bulan. Tapi teuteup aja, jangan mimpi doang, berdoa dan berusaha, up..up..

Tak terkira terima kasihku untuk ibu, mama dan papa tercinta untuk setiap doa dan dukunganya, we know you love us, always. tanpa itu semua tak mungkin kami berdiri disini. Dan juga untuk semua keluarga besar kami atas pemaklumannya, memang jalan yang kami tempuh tidak biasa, tidak normal (abnormal dong), tidak nyaman dilihat (tapi saya angkat topi buat suami yang berani keluar dari comfort zonenya, nggak semua orang berani, nggak semua orang bisa).

Juga buat teman-teman yang sudah mau berbagi ilmu, kesempatan, dan kerja samanya. You’re our inspiration… Pengen nyebut satu persatu, tapi nggak enak kalau ada yang ketinggalan entar ngambek hehhee… Tapi yakin deh kalau baca tulisan ini, pasti langsung berasa kesenggol gitu.

Maka, buat siapa saja yang tergiur pengeen berwirausaha karena iming-iming pengen punya waktu yang lebih banyak buat keluarga, pengen punya cashflow yang mandiri dan tak terbatas dan seabreg iming-iming lain yang biasanya trainer sampaikan. Saya anjurkan untuk stop, nggak usah melanjutkan usahanya, it’s bullshit, preketek kalo orang surabaya bilang. Yakinlah, usahamu akan memakan waktu yang lebih banyak dari kantormu sekarang, yakinlah nggak selamanya usahamu berjaya, ada jatuh bangunnya. Apalagi kalau kalau sudah kena “lihat tuh si anu, teman sekolahmu sudah punya rumah, mobil bisa jalan-jalan ke luar negeri”, jangan tanya sakkitnya dimana? sakit semua lha… Kan nggak mungkin juga kita jelasin satu per satu aset kita sekian lho, be patient aja lah.

Dan sekarang, Alhamdulillah, PERDHANAHOST dan SOERABAIANETWORKS semakin berkembang. Kalau kata suami, “bagaimana usaha kita kan besar, jika aku masih menganaktirikannya (disambi ngantor), bagaimana usaha kita kan berkah kalau aku masih mencuri-curi waktu di kantor, waktu istirahatku di rumah yang sejatinya ditujukan agar keesokan paginya badanku segar dan bisa bekerja dengan baik di kantor”.

Aku hanya bisa memelukmu kala kau bersedih
Aku hanya bisa menyemangatimu kala kau tersungkur
Aku hanya bisa menangis kala kau tersakiti
Aku hanya bisa berharap pada Rabbku untukmu
Aku hanya bisa disini untukmu…

You raise me up to more than i can be…


Comment please..

Discussion

No comments yet.

Leave a Comment

Your email address will not be published.


2 + seven =