//
you're reading...
Home Education

Mr. Big NO (ego)

Mama: “lanang, maem yuuk” .
Lanang: “gak mau, dah kenyang” .
Giliran mama makan pake sambel, lagi nggelituk enaknya, “Mama aku mau makan, sekarang… aaa'”

———–

Mama: “lanang, waktunya mandi”.
Lanang: “gak mauuuu” .
Giliran sudah di kamar mandi gak mau keluar, giliran sudah keluar gak mau pake baju. Tarik nafas panjaaanggg dan dalaaamnn. Trus keluarkan. Jangan ditahan awas ambien.

———-

L: “Mama, boleh bobok di lantai?”
M: “jangan, nanti masuk angin”
Ngotot tidur di lantai, tarik-tarikan gak karuan. Pokoknya ngotot tidur di lantai.

————-

L: “Mama, boleh injek adek gak?”
M: “Gak boleh, kasihan adek nanti sakit”.
Ujung-ujungnya tarik-tarikan, rame, dan adek sukses bangun padahal belum kelar kerjaan. ArRRrgGhhHhh…

Kali lain…

L: “Mama, boleh bobok di lantai?”
M: “Bobok di lantai bisa bikin kembung, masuk angin,muntah dan panas badannya”.
L: “Mama, boleh bobok di lantai gak?”.
M: “Terserah lanang, Bobok di lantai bisa bikin kembung, masuk angin,muntah dan panas badannya”.
Dialog berulang kali sampai 10 kali. *ngelap keringet pake handuk,  rasa-rasanya bisa buat ngepel nih keringet,  hehhehe…

Trus ngetes mama, kakinya dijulurkan ke lantai, trus perutnya trus kepalanya. Mama sok cuek sok kuul padahal dalam hati “sabarrrr… kuatkan diri, gak usah dilihat, cuekin aja”.
Eeh.. pindah ke kasur dianya. #suksesadalah wakakakkk…

——————

Kali lain…
L: “Mama, boleh injek adek gak?”.
M: “Lanang mau diinjek?”.
L: “Gak mau” .
M: “Adek juga gak mau, adek masih kecil, badan lanang besar, berat buat adek. Kalo kejatuhan atau keinjek sakit” .
Tetep ngotot jalan diatas ngangkangin adeknya tapi cuma sekali dan hati-hati. Emak dag dig dug der, mimik berusaha stay cool tapi tangan siaga satu,  opo toh karepmu le…

Dan bejibun jawaban “bukan lah”, “tak mau”, “gak mau”, “aku maunya”, “eits jangan”, tak boleh “.

—————

L: “ini apa? Kwok.. kwok” sambil jongkok.
M: “kodok”
L: “salah, katak gendut”
Padahal kalo dijawab katak, dia bilang itu kodok. Qqkakak

L: “mbeek… mbeeekk” sambil merangkak.
M: ” kambing“.
L: “Salah… domba”.

L: “mama, ini apa? Waooo… waaaooo” Tangannya diangkat, diperlihatkannya kuku-kukunya.
M: “harimau”.
L: “Salah… singa”

Kalo yang beginian mah emak demen banget, habis itu dikuyel-kuyel tuh anak.

———————-

Ya… EGO.
Dalam teori psikologi dasar, kita mengenal ego, super ego dan id.

Id adalah satu-satunya komponen kepribadian yang hadir sejak lahir. Aspek kepribadian sepenuhnya sadar dan termasuk dari perilaku naluriah dan primitif.

Id didorong oleh prinsip kesenangan, yang berusaha untuk kepuasan segera dari semua keinginan, keinginan, dan kebutuhan. Jika kebutuhan ini tidak terpuaskan langsung, hasilnya adalah kecemasan.

Yaa… semacam naluri dasar gitu pengen ini pengen itu.

Sementara Ego adalah komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk menangani dengan realitas. Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas, yang berusaha untuk memuaskan keinginan id dengan cara-cara yang realistis dan sosial yang sesuai. Sederhananya “Gimana aku bisa dapat yang aku mau”, “jika begini bagaimana, jika begitu bagaimana“.

Ada lagi yang namanya superego. Superego adalah aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang kita peroleh dari kedua orang tua dan masyarakat, rasa benar dan salah. Superego memberikan pedoman untuk membuat penilaian. “Sopan gak ya?”, “baik gak ya?”.

Menurut sigmund freud, yang ideal tentunya keseimbangan antara id, ego dan superego.

Sumber: www.belajarpsikologi.com

Nah, begitulah ibu-ibu kuliah kita hari ini dari bukan dosen psikologi ????????

Makanya saya mau buat disclaimer: #bukanpsikolog cuma #numpangcurhat jadi kalo ada kasus silahkan hubungi psikolog terdekat. Hahahha…

———————–

Sepanjang tahun 2017 saya mengikuti kuliah parenting berseri Majelis Lukman AlHakim (12 x pertemuan), yang diselenggarakan grup #HEBAT (Home Education Based on Akhlak and Talented).

Meski banyak bolosnya *tutup muka pake serbet, mulai dari anak sakit, sayanya yang sakit, ada acara lain yang gak bisa ditinggal. #kebanyakanalasan.

Pas banget waktu pembahasan ego bisa hadir, Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

Kurang lebih saya sarikan begini:
Ego berbeda dengan egoisme. “Egois lu” tentu berbeda dengan “ego gue harus begini”. Gak usah dibahas ya, entar luber kemana-mana. Silahkan cari sendiri.

Ego bukanlah sesuatu yang jelek atau negatif. Ego berperan penting dalam kehidupan manusia. Kita gak bisa nikmati chit-chat ketemu teman di facebook andai kang Zukerberg tak memuaskan egonya bikin sosial media.

Rasulullah tak akan berkata “Paman, demi Allah, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan misi ini, sungguh tidak akan aku lakukan. Biarlah nanti, Allah yang akan membuktikan kemenanganku atau aku binasa karenanya “, andai egonya lemah.

Ditengah teman-temannya yang merokok, anak cenderung jadi perokok. Di tengah orang berbaju biru, kita merasa harus berbaju biru padahal dirinya bukan biru banget. Kalo aku sih memang mak blue *abaikan kalimat terakhir, hehhe.

Lagi pada booming telenovela merasa harus lihat dan ngikutin serial maria macedes. Biar gak kudet. Ampun dah… tahun berapa ini ya? K-POP maak K-POP. Drakor maak drakor…

Yang demikian salah satunya adalah karena ego yang lemah.

Masih ingat nggak masa kita di SMA dulu, mau pilih jurusan kuliah, bukannya nanya diri sendiri, “gue minatnya apa sih”  eeh yang ada nanya teman “kamu ambil apa? , atau kita sibuk melihat hasil try out, kira-kira nilai segini masuk di jurusan apa PTN apa ya?

Ups jangan kesindir ya? Sejujurnya ini cerita diri sendiri koq.

Tapi suka tidak suka memang seperti ini realitanya. Dan biasanya yang seperti ini yang lebih disukai masyarakat dan orang tua. Gak neko-neko.

Ibu pergi ke. . .

Bapak pergi ke. .

Coba tanyakan ke anak TK  atau cek isi kepala kita jika diberi pertanyaan kayak gini. Biasanya jawaban kalimat pertama, ibu pergi ke…. pasar, sedangkan bapak pergi ke… kantor.

Lha kalo anak saya yang ditanya kan bingung. Lha bapaknya perginya kalo nggak ke pasar ya ke data center, emaknya perginya ke tukang sayur atau ke lapangan buat main. ????????

Karena, konon the most suggestable people in the world are Indonesian. Sehingga yang namanya hipnotis, gendam, bahkan hypnotherapy banyak laku disini.

——————-

Bayangkan ketika  ada manusia jahat yang mengajak anak berbuat dosa atau mau melakukan hal nista pada anak-anak, kemudian semua anak dengan berani bilang “TIDAK” kemudian sekuat hati dan diri mencari pertolongan.

Bayangkan ketika anak berani untuk tidak pacaran di tengah masyarakat dan teman-temannya yang menganggap lumrah pacaran.

Bayangkan ketika anak berani berjilbab di tengah lingkungan yang mengumbar aurat dan syahwat.

Bayangkan ketika seorang polisi berani tidak pungli di tengah semua teman  dan atasannya menikmati pungli.

Bayangkan ada anggota DPR yang bersih  dan memikirkan rakyat ditengah… you know lah.

Ego is something that makes you, you.

—————————————-

Trus, gimana dong memelihara ego? Dalam hal ini anak-anak karena bahasannya adalah parenting.

Nah, yang jadi tantangan adalah bagaimana mengelola dan memelihara ego? Bagaimana menjaga agar ego tak berubah menjadi egoisme?

Dibahas juga akhirnya, meski jujur saja, anak yang keras kepala itu nyebelin, ngeselin, minta dicubitin. Iya ngak? Iya nggak? Iyaaaa…

Karena dibalik sifat keras kepalanya ada jiwa yang kuat, teguh pendirian dan leadership. Gitu deh kira-kira.

Bersambung ya… emak makan dulu, demi stok ASI #eh hobi yang menyenangkan ding. ????


Comment please..

Discussion

No comments yet.

Leave a Comment

Your email address will not be published.


4 − four =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>